Rabu, 14 Juni 2017

Tempat parkir Taman bungkul

 Tempat parkir taman bungkul.

Terlihat tempat itu rindang dan kendaraan  tertata rapi, dipinggir taman bungkul. Orang hilir mudik, menaruh kendaraan mereka dan mengambilnya kembali ditempat itu. Dengan cekatan si juru parkir, membantu mengeluarkan kendaraan pengunjung maupun mengatur kendaraan agar tetap rapi.
  Tak jarang tempat ini dipenuhi dengan kendaraan hingga ke tenggah jalan. Ramainya pengunjung taman bungkul pada hari libur, tentunya menambah sesak tempat parkirnya. Tempat parkir yang berada di sebelah utara taman bungkul ini dapat menampung kira-kira 150 motor pengunjung taman bungkul. Meskipun tidak hanya pengunjung taman bungkul saja yang parkir di situ, melainkan juga pegawai kantor yang terletak di sebelah tempat parkir taman bungkul.
   Hal ini menjadikan jalan kecil menuju makam, yang melewati tempat pakir taman bungkul menjadi terganggu. Namun hal itu tidak menjadikan masalah yang besar, karena tidak setiap hari tempat parkir taman bungkul memenuhi jalan. Hanya hari tertentu saja taman bungku penuh akan pengunjung.
  Setiap pengunjung taman bungkul akan dikenakan biaya parkir sebesar Rp.3000.00.  Dan akan mendapatkan karcis parkir sebagai tanda bukti, ketika akan mengambil kendaraan. Namun terlihat janggal ketika mengatahui harga yang tertera Rp.2000.00 pada karcis parkir. Mengingat pengguna parkir dipatok Rp.3000.00 sekali parki, jelas hal itu tidak sesuai dengan peraturan dinas perhubungan yang mematok harga Rp.2000.00 saja dalam setiap parkir.
 

Minggu, 28 Mei 2017

Pedagang Pentol Taman Bungkul

Contoh feature
Oleh Siska Oktaviana
  Terlhat bapak-bapak tua, dengan kulit hitam keriput memakai topi ala anak muda, sedang sibuk melayani pelanggannya. Tak jarang ia tertawa karena obrolan dengan pelanggannya, dengan tawanya terlihat jelas gigi bapak tua itu sudah tidak utuh lagi. Dengan sepeda tua bututnya, ia mendorong gerobak dagangganya.
 Ia adalah bapak Aep, seorang pedagang pentol yang umurnya kira-kira 55 tahun. Bapak Seo sendiri terlihat akrab dengan penjaga parkir taman bungkul, yang mengaku sebagai pelanggannya. Sembari ia menuangkan saus kacang ke pentol pelanggannya, Karena bercerita dengan penuh semangat, ia berkata akan pulang ke Tasikmalaya untuk menemani anaknya ujian.
 Dengan tubuh rentanya, ia memindahkan gerobak daganggannya ke pinggir jalan, sembari menunggu pelanggannya. Pria yang mengaku sudah belasan tahun berjualan pentol di Taman Bungkul itu sesekali mengamati sekitar. Ia kuatir sewaktu-waktu Satpol PP menghampirinya.
 Ia mengakui tidak semua tempat di Taman Bungkul boleh untuk berjualan. Sehingga ia berjualan dengan berpindah-pindah , mendatangi para pelanggannya saja. Hal itu ia lakukan untuk menghindari razia satpol PP, namun pelanggannya tetap bisa menikmati pentol buatanya.
 Tak jarang ketika taman bungkul sepi, ia mengaku berjualan ke SD Al-Falah yang letaknya tidak jauh dari Taman Bungkul.. Ketika menjelang magrib ia putuskan pulang ke daerah Jagir gang 12 surabaya, entah pentol dagangganya laku ataupun tidak. Penglihatanya yang sudah kabur, membuatnya tidak mampu melihat dengan baik ketika malam hari. Sehingga ia mengaku enggan berjualan hingga malam.

Berita new

Bu Tini meminta mahasiswa UINSA untuk Sadar kebersihan
Surabaya, 13 februari 2017. Bu Tini selaku petugas kebersihan di gedung E1 fakultas tarbiyah dan keguruan UIN Sunan Ampel  Surabaya, meminta agar mahasiswa sadar akan kebersihan. Kebersihan bukan hanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan saja, melainkan juga mahasiswanya. Tempat sampah yang disediakan di berbagai tempat, harus dioptimalkan fungsinya, paparnya.
Selain Bu Tini ada juga Pak Agi yang membantu membersihkan gedung kelas, setiap 2 kali dalam sehari,  sebelum ada  jam kuliah dan jam makan siang. Menurutnya, alat kebersihan sudah menandai, namun mahasiswanya saja yang kurang peduli dengan sampah. Bu Tini sempat geram dengan mahasiswa yang tidak sadar diri, ketika ia ingin membersihkan ruangan kelas. Mbok yo minggir sedikit kalau tau kitanya bawa cikrak sapu, paparnya. Bu Tini meminta kerja sama kepada mahasiswa fakultas tarbiyah dan keguruan UIN Sunan Ampel untuk saling menjaga kebersihan gedung E1, agar petugas tidak kerepotan menjaga kelas agar tetap bersih. (Siska oktaviana)